Menari dalam riak

Posted: Februari 5, 2009 by rini in Lessons for Life

Change! The only thing unchange is change…

Maka sekuat apa pun daya yang saya miliki, saya sadar sepenuhnya bahwa semua hal sedang bergerak menuju arah keabadian, sebuah perubahan. Perubahan, idealnya adalah menjadi lebih baik. Ketika perubahan tidak dapat dicegah lagi, bagi saya, ikutlah berubah. Dengan catatan, perubahannya adalah positif. Namun tidak ada yang dapat memprediksi arahnya, sehingga tidak mustahil ia bergerak tidak ke arah positif. Saya tidak menyebutnya negatif.

Suasana disini, sedang tidak kondusif. Seperti kondisi cuaca akhir-akhir ini, sedang terjadi angin kencang, karena rasanya terlalu ekstrim jika menyebutnya badai. It won’t be the same anymore. Saya tidak mengharapkannya selalu sama, karena memang tidak akan pernah sama. Hal yang menarik adalah bagaimana reaksi terhadap perubahan ini.

Change! Ia bergerak dalam suatu hal yang pasti, hanya menunggu waktu. Maka bijakkah ketika saya bersikukuh untuk diam tak mengikuti kemana arus bergerak, hanya karena menganggap bahwa nilai-nilai yang saya pegang adalah yang terbaik? Mungkin saja nilai itu memang benar adanya, tapi mungkin juga tidak. Mungkin pula nilai itu benar pada jamannya dulu, tapi tidak saat ini. Mungkin juga ia benar dengan berbagai prasyarat yang harus dipenuhi, dan saat ini prasyarat itu tidak terpenuhi lagi.

Ketika belajar berenang, saya mendapat pelajaran penting. “Air itu banyak, jangan panik dan jangan melawan air, karena jika kau meronta, kau pasti akan kalah.” Sederhana bukan. Maka ikutlah bergerak di dalamnya, temukan ritmenya, rasakan arusnya dan ikutlah berayun mengikuti geraknya. Perlahan-lahan riaknya akan reda. Dan saat itu, kau bahkan bisa berbalik memegang kendali. Namun sebaliknya, jika kau meronta, riaknya semakin ganas dan pelan tapi pasti ia akan menguras segala dayamu hingga kau tak mampu lagi melawan dan tenggelam di dalamnya.

Maka bergeraklah saya mengikuti irama. Karena saya sadar, saya terlalu kecil untuk memiliki makna dalam perubahan ini. Bukan, bukan menyerah, bukan juga pembelaan diri. Inilah yang paling realistis. Saya bertanggung jawab secara organisasi, bukan terhadap satu kelompok, bukan pula terhadap personal. Maka selama saya masih memiliki tanggung jawab yang belum terselesaikan, saya akan berayun mengikuti perubahan, melunaskan janji. Sekuat apapun angin bertiup, tanggung jawab ini seharusnya dituntaskan. Apapun yang saya rasakan dengan semua proses ini, satu hal yang pasti, tanggung jawab ini tetap ditangan saya. Mungkin, riak akan reda dan saya bisa berenang. Mungkin juga riak tak kunjung berdamai dengan saya. Mungkin riak mereda namun arusnya membawaku ke tempat berbeda. Mungkin pada saat itu saya harus mencari arus yang lain…

Change! Tidak selalu mudah untuk melakukannya. Terlebih ketika arus itu datang dari luar. Jangankan untuk berubah, untuk menyadari perlunya perubahan pun terkadang sulit. Apalagi ketika kita dipaksa meninggalkan zona nyaman yang telah cukup lama dihuni. Seperti seseorang yang menarik selimut tidur kita dengan paksa di pagi buta yang dingin di kala kita lelap dalam tidur.

Namun perubahan adalah pasti. Ia akan datang, mengetuk pintu, mengajakmu berjalan bersamanya, suka ataupun tidak. Pada saat itu, kita sebenarnya memiliki pilihan, bertahan atau berlalu meninggalkannya. Jika kita memilih tetap bertahan, maka kita tidak lagi mempunyai pilihan, selain mengikuti ajakannya. Jika kita mengikuti ajakannya dengan sukarela, maka kita akan berjalan bersisian dengannya secara damai. Sebaliknya, jika kita menolaknya, maka ia akan tetap memaksa, menarik kita berjalan bersamanya, walaupun terseok. Bandingkan keduanya. Ketika kita melangkah dengan damai, meskipun tidak atas kemauan sendiri, mungkin akan terasa berat namun itu tidak lah seberat ketika kita melangkah terseok. Perubahan itu sendiri sudah cukup berat. Jangan menambahnya menjadi semakin berat dengan mengingkarinya. Karena didalamnya, ke arah manapun ia menuju, percayalah, jika kita mau membuka mata dan hati, kita bisa belajar sesuatu. Mungkin bukan hasil yang baik yang sedang kita tuju, tapi paling tidak, kita belajar proses yang bijak, memetik hikmahnya.

Maka ikhlas lah menjalaninya. Berdamailah dengan keadaan, dan semoga akan meringankan beban ini. Tidaklah berarti kita lemah ketika kita mengikhlaskannya. Mungkin kita harus mundur beberapa langkah untuk kemudian maju. Mungkin kita harus sakit untuk mengerti artinya sehat. Mungkin kita harus terpuruk untuk belajar bagaimana berjuang untuk bangkit kembali.

Orang-orang besar lahir dari semangat perubahan. Mereka mengukir nama dalam sejarah pribadi, keluarga, masyarakat, bangsa bahkan dalam sejarah dunia. Ada semangat besar dalam jiwa mereka untuk melakukan sebuah perubahan. Mereka bukanlah korban perubahan tapi mereka adalah yang berdiri paling depan sebagai agent of change. Maka dengan idealismenya mereka terus bergerak. Lihatlah, banyak dari mereka yang tidak sempat menikmati perjuangannya. Mereka memiliki jiwa besar dan mimpi yang besar menjadikan dunia lebih baik. Dan yang terbaik adalah dari diri sendiri, dari hal yang kecil. Di makam ruang bawah tanah, Crypts of Westminster Abbey, terukir puisi ini.

Willingness to Change

When I was young and free,
and my imaginations has no limits, I dreamed of changing the world.
As I grew older and wiser,

I discovered the world would not change, so I shortened my sight somewhat,
and decided to change only my country, but it to seemed immovable.

As I grew into my twilight years, in one last desperate attempt,
I settled for changing only my family, those closest to me.
But alas, they would have none of it.

And now, as I lay on my deathbed,
I suddenly realized:
If I had only changed my self first,
then by example I might have change my family,
from their inspiration and encouragement,
I would then have been able to better my country,
And who knows, I may have even change the world…

(an Anglian Bishop, 1100 AD, as written in Crypts of Westminster Abbey)

Kita harus menerima nya. Kita harus melangkah. Dan jangan menyesali yang lalu karena tidak ada yang sia-sia semua yang telah dilakukan di masa lalu, semua memiliki nilainya masing-masing. Kita akan belajar hal-hal besar di dalamnya. Kita pun belum tahu kemana ini akan bermuara. Maka tidak lah bijak ketika kita menjadi putus asa atas sesuatu yang belum kita ketahui.

Jika suatu saat kau terkena duri dalam arus ini, bertahanlah, lepaskan duri itu, dan jauhkan ia dari dirimu dan yang lainnya. Jangan biarkan orang lain tahu kau terluka. Karena mungkin kau adalah napas bagi jiwanya. Jika mereka melihatmu terluka, mereka juga mungkin kehilangan daya dan semangatnya. Jangan melemparnya karena  mungkin akan melukai yang lain. Jangan menjadi penyebar duri di dalam arus ini. Maka jadilah kuat bagi mereka yang bernapas denganmu.

Saya percaya kalian adalah orang-orang besar ketika kalian mempertahankan nilai yang kalian yakini. Saya pun tahu ada ketakutan yang kita rasakan. Namun pernah kah kita berpikir, apa yang menjadi alasan ketakutan kita. Kepentingan pribadikah? Ekonomikah? Nilai tertentukah? Pihak tertentukah? Lalu pernahkah kita memikirkan bahwa ketakutan kita adalah karena fungsi mulia organisasi ini?

If you think that this is the best value that should be used, then proof that it is the best…
If you think that you are the best, then show that you are…
If this is about the number of money, and you’re paid less, then show that you deserve something more…
If you think that you deserve something better, then show that you can perform better
And if they can’t fulfill all of your dreams anymore, then what are you waiting for?
Stop crying, Stop complaining, Stop muttering… Step out and let it go…
Show to the world that you can achieve something better with all of your own…
Do not ever STOP here. There will be many other ways out there.
If they can’t help you pursue your dream then leave it. Go out to shape your own future.
These all are not only about values, also, not only about rupiahs, not only about position level.
There are something more important beyond all of those things.
Something deeper, something wider, something bigger…

Menarilah dalam riak… Tersenyumlah…

Komentar
  1. Beni mengatakan:

    be ur self n the best u can be…
    and than enjoy ur life..

  2. tika mengatakan:

    Honey..from my experiency.. sometimes you have to make peace with reality.. and..when you strong enough.. then you can take lead of everything

  3. tika mengatakan:

    Honey..from my experience.. sometimes you have to make peace with reality.. and..when you strong enough.. then you can take lead of everything

  4. mike mengatakan:

    you’ve learned…. ikhlas bukan karena siapapun…. tapi benar2 ikhlas menjalaninya tanpa alasan apapun…ikhlas bukan karena terpaksa…… tapi benar2 tulus jauh dilubuk hati yg terdalam….

  5. Savitri mengatakan:

    wuitss…. keren ya tulisannya.. sangat tidak menjurus… tetap berproses untuk belajar menjadi ikhlas ya.. yuk mareee…he..he..

  6. peter lau mengatakan:

    tq buat postingnya, artikel yang menarik dan memberi inspirasi, sukses..

  7. rini mengatakan:

    still in learning process… ikhlas is a never ending learning process

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s